“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (QS Yunus 47)
Allah swt. menciptakan setiap umat rasul-rasul yang akan membimbing mereka untuk hidup sesuai dengan syariat Allah. Sejak nabi Adam hingga berakhirnya era kenabian setelah kedatangan nabi Muhammad Saw., telah banyak nabi dan rasul yang diutus yang jumlah pastinya hanya Allah Yang Maha Tahu. Al-Quran telah menerangkan dengan jelas bagaimana perjuangan mereka dalam membimbing umatnya. Sebagian ada yang tunduk dan patuh, sebagian lagi ada yang menentang dengan jelas. Berbagai jejak dan bukti yang telah ditemukan setidaknya dapat lebih meyakinkan kita, bahwa mereka memang pernah ada. Hal ini dapat dilihat dari ditemukannya berbagai makam nabi dan rasul di berbagai tempat, terutama di sekitar Jazirah Arab.
Palestina
Palestina, disebut sebagai tanah yang dijanjikan bagi kaum Bani Israil ini dapat disebut sebagai kampung para nabi dan rasul. Sebab di tempat ini dan dari golongan Bani Israil yang tinggal disinilah, nabi dan rasul banyak diutus oleh Allah swt. Palestina ini merupakan tempat di mana nabi Sulaiman memerintah dan mendirikan kiblat pertama bagi umat Islam, Masjidil Aqsa. Palestina juga merupakan tempat di mana nabi Musa menyelamatkan kaum Bani israil dari kejaran Firaun. Di wilayah Hebron, Tepi barat kita dapat menemukan makam nabi daud, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Ishaq, nabi Luth, dan nabi Sulaiman yang banyak diziarahi oleh kaum muslimin, nasrani, dan yahudi.
Lebanon
Lebanon merupakan tempat di mana dikuburnya nabi Yusya. Beliau merupakan salah seorang dari pengikut nabi Musa dan nabi Harun untuk berdakwah kepada kaum Bani Israil. Sejak dimulainya perjuangan nabi Musa dalam menentang tirani Firaun hingga wafatnya nabi Musa di Hebron, Palestina, beliau tetap setia mendampingi nabi Musa. Setelah wafatnya nabi Musa, ia diangkat menjadi nabi bagi kaum Bani Israil dan memimpin mereka hingga wafat pada usia 110 tahun. Selain nabi Yusya, konon nabi Ayub juga dimakamkan di tempat ini.
Jordania
Empat makam nabi dapat ditemukan di Jordania. Mereka diantaranya nabi Harun, nabi Nuh, nabi Syuaib, dan nabi Yusya.
Mesir
Makam nabi Saleh dan nabi Yakub ditemukan di wilayah ini. Nabi Saleh adalah nabi yang diutus untuk kaum Tsamud yang bermukim di sekitar Hijaz dan Syam. Kaum Tsamud yang ingkar dan melanggar perintah Allah dengan membunuh unta milik nabi Saleh akhirnya diazab dengan hujan batu, gempa bumi, dan halilintar. Nabi Saleh yang pada waktu itu telah menyelamatkan diri di Ramlah, Palestina kemudian menetap di Mesir dan meninggal di sana. Kisah nabi Saleh diceritakan Al Quran dalam surat Al-A’raaf, Hud, dan Al Qamar. Sementara itu nabi Yakub yang juga wafat dan dimakamkan di Mesir meninggal saat anaknya, nabi Yusuf menjadi raja Mesir.
Iraq
Nabi Luth dan nabi Yunus di makamkan di tempat ini. Nabi Luth diutus untuk kaum Sodom yang sebelumnya menetap di sekitar Jordania. Namun karena mereka ingkar kepada Allah dengan melakukan hubungan sejenis (homoseksual), maka kaum ini diazab dengan gempa bumi, hujan batu, dan halilintar yang sangat dahsyat. Nabi Luth yang diperintahkan untuk hijrah menetap di Iraq hingga akhir hayatnya.
Syiria
Nabi Yahya dan nabi Zakaria dimakamkan di tempat ini. Menurut Al Quran, mereka merupakan nabi yang diutus pada kaum Bani Israil. Masa kenabian mereka berdekatan dengan diutusnya nabi Isa a.s. Pada masa ini beliau banyak berdakwah untuk memperbaiki umat yang telah banyak menyimpang dari kitab Taurat yang diwahyukan kepada nabi Musa. Namun nasib mereka berujung tragis, banyak umat mereka yang membangkang. Nabi Yahya dan nabi Zakaria akhirnya mati terbunuh oleh umatnya sendiri.
Srilanka
Di tempat ini, tidak terdapat makam (kuburan) nabi melainkan makam (jejak/tanda) nabi Adam. Setelah diturunkannya nabi Adam dan Hawa ke Bumi karena melanggar perintah Tuhan, mereka berpisah satu sama lain. Adam diturunkan di Safa dan Hawa diturunkan di Marwa. Mereka akhirnya bertemu kembali di Jabal Rahmah setelah 40 hari berpisah. Setelah bersatu kembali, konon Adam dan Hawa menetap di Srilanka. Di tempat ini ditemukan jejak kaki nabi Adam yang berukuran raksasa. Meskipun demikian, sampai saat ini belum ditemukan makam (kuburan) nabi Adam yang sesungguhnya.
Arab Saudi
Di sinilah, nabi terakhir dan paling mulia bagi umat Islam, nabi yang juga diutus bagi seluruh umat manusia, nabi Muhammad lahir, wafat, dan menyebarkan dakwah Islam. Nabi Muhammad Saw. lahir di Mekah pada tahun 571 M dan meninggal di Madinah pada tahun 632 M. Beliau dimakamkan di dalam kompleks mesjid Nabawi. Di kiri-kanan makam beliau terdapat makam sahabat lainnya, Abu Bakar As-Sidiq dan Umar bin Khattab. Tempat ini menjadi salah satu tempat yang diziarahi oleh jemaah haji seluruh dunia.
Yaman
Disini ditemukan makam Nabi Hud beserta sisa-sisa azab Allah kepada umat yang mengingkari nabi Hud. Disinilah terdapat kota Iram, kota kuno tempat dimana kaum Ad yang ingkar kepada Allah dulunya berdiri megah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Quran surat Al Fajr ayat 6-8. “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad ? Yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun seperti itu sebelumnya di negeri-negeri lain.” Nabi Hud dimakamkan tidak jauh dari sana, di wadi Hadramaut.
Friday, February 26, 2010
Menelusuri Jejak Makam Rasul-rasul Allah
Monday, February 15, 2010
Islam Menolak Valentine
Valentine menjadi istilah yang akrab dan populer disebutkan untuk momentum 14 Februari. Momentum ini menyimpan nilai tersendiri bagi mereka yang merayakannya. Sehingga tak jarang 14 Februari diaktualisasikan sebagai sebuah perayaan khusus disetiap tahunnya. Dimulai dengan mengemas sebuah kado istimewa, melayangkan ucapan “happy Valentine”, hingga mengadakan perayaan besar bak sebuah resepsi pernikahan. Hal ini dinilai wajar untuk sebuah momentum yang “diistimewakan”.
Namun demikian, kewajaran perayaan Valentine menjadi polemik, bahkan mengundang perbincangan hangat, saat Islam turut ambil bagian untuk mengistimewakan perayaan ini. Valentine yang diyakini sebagai budaya yang lahir dari agama Kristen telah melibatkan sebahagian besar remaja Islam untuk merayakannya. Hal ini dinilai salah sehingga melahirkan klaim “haram” bagi umat Islam yang merayakannya.
Ironisnya, fatwa “haram” untuk perayaan Valentine bagi umat Islam, tidak malah menjadikan pemeluk Islam (khususnya remaja) meninggalkan budaya perayaan Valentine ini, akan tetapi sebaliknya, perayaan tersebut justru mendarah daging dan “membumi” dalam masyarakat Islam pada umumnya. Apakah dikarenakan doktrin tersebut merupakan sebuah “ijtihad” baru yang kurang memiliki kejelasan hukum sebagaimana persoalan kehidupan lainnya, jelasnya fatwa “haram” terhadap perayaan Valentine agaknya kurang memiliki “makna generik” yang pada akhirnya menjadikan fatwa tersebut kurang diindahkan.
Kesamaran Sejarah Valentine.
Berbeda dengan hari besar lain semisal 25 Desember sebagai hari natal, atau 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Muhammad SAW, 14 Februari sesungguhnya memiliki “kesamaran sejarah” sebagai sebuah hari besar. Kebanyakan orang menyebut hari ini sebagai hari “kasih sayang”, namun tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah kebenarannya.Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa. Koneksi antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Berbeda dengan hari besar lain semisal 25 Desember sebagai hari natal, atau 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Muhammad SAW, 14 Februari sesungguhnya memiliki “kesamaran sejarah” sebagai sebuah hari besar. Kebanyakan orang menyebut hari ini sebagai hari “kasih sayang”, namun tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah kebenarannya.Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa. Koneksi antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.Beberapa sumber menyebutkan bahwa jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan kedalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Catatan pertama dikaitkannya hari besar santo dengan kasih sayang dimulai sejak abad ke-14 di Inggris dan Prrancis, dimana diyakini bahwa 14 Februari merupakan hari ketika burung mencari pasangan hidupnya. Keyakinan ini ditulis dalam karya sastrawan Inggris abad ke-14 bernama Geoffery Chaucer. Dalam karya tersebut dia menuliskan: “…for this was sent on seynt valentyne’s day,…when every foul cometh ther to chosehis matc (inilah yang dikirim pada hari santo Valentinus,…saat semua burung datang kesana untuk memilih pasangannya)”.
Sumber lain dari sebuah kartu Valentine abad ke-14 yang konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London menceritakan beberapa legenda santo Valentinus, diantaranya mencatat bahwa: sore hari sebelum Valentinus gugur sebagai syuhada, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikan kepada sipir penjaranya bertuliskan “dari Valentinus”. Konon ketika itu serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka. Itu sebabnya pada zaman tersebut para pasangan yang tengah menjalin cinta lazim bertukar catatan dan memanggil pasangannya sebagai “Valentine”.
Aktualisasi Perayaan Valentine.
Sekelumit catatan “sejarah samar” latar belakang perayaan Valentine yang dipaparkan diatas sesungguhnya masih belum cukup beralasan untuk mengaitkan 14 Februari dengan hari kasih sayang. Anehnya, sampai hari ini aktualisasi perayaan Valentine semakin tumbuh subur dan berkembang pesat seperti pertumbuhan jamur di musim hujan. Padahal, tanpa disadari perayaan ini telah dihapus dari kalender gereja sejak tahun 1969 sebagai sebuah upaya menghilangkan keyakinan terhadap santo-santa yang asal mula sejarahnya hanya sebatas legenda dan masih perlu dipertanyakan.
Sekelumit catatan “sejarah samar” latar belakang perayaan Valentine yang dipaparkan diatas sesungguhnya masih belum cukup beralasan untuk mengaitkan 14 Februari dengan hari kasih sayang. Anehnya, sampai hari ini aktualisasi perayaan Valentine semakin tumbuh subur dan berkembang pesat seperti pertumbuhan jamur di musim hujan. Padahal, tanpa disadari perayaan ini telah dihapus dari kalender gereja sejak tahun 1969 sebagai sebuah upaya menghilangkan keyakinan terhadap santo-santa yang asal mula sejarahnya hanya sebatas legenda dan masih perlu dipertanyakan.Aktualisasi perayaan Valentine yang semakin subur ini dapat dilihat dibeberapa wilayah dunia yang turut menyisihkan waktu untuk merayakannya. Seperti di Jepang, hari Valentine, berkat marketing besar-besaran, sebagai hari dimana para wanita memberikan pria yang mereka senangi permen coklat. Ini tidak dilakukan secara sukarela, melainkan sebagai sebuah kewajiban, khususnya bagi mereka yang bekerja di Kantor. Dengan sedikit penambahan ciri khas, Thaiwan juga mengaktualisasikan perayaan Valentine semacam ini.Di Prancis perayaan Valentine dimeriahkan dengan pesta kembang api, sementara di Australia para remaja biasa kumpul disepanjang jalan bersama teman-teman dan pasangan mereka untuk merayakan Valentine. Pada saat yang sama, Valentine dikecam oleh orang Melayu di Malaysia. Dan tanpa disadari pula, budaya bertukaran kado Valentine antara sepasang kekaasih pada tanggal 14 Februari mulai muncul di Indonesia.
Islam dan Argumentasi Penolakan Valentine.
Dari berbagai macam warna dan bentuk aktualisasi perayaan Valentine diseluruh penjuru dunia, Islam justru hadir sebagai institusi yang menolak perayaan Valentine tersebut. Arab Saudi misalnya, sebagai wilayah yang dianggap kiblat muslim diseluruh dunia, telah mengharamkan Valentine bagi umat Islam karena dinilai sebagai perayaan kaum Kristen yang penuh kekufuran. Padahal dengan alasan yang tidak jelas, umat Islam di Indonesia (pada umumnya) sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di dunia, telah menjadikan Valentine sebagai bahagian yang mesti dirayakan setiap tahunnya (khususnya bagi para remaja).
Dari berbagai macam warna dan bentuk aktualisasi perayaan Valentine diseluruh penjuru dunia, Islam justru hadir sebagai institusi yang menolak perayaan Valentine tersebut. Arab Saudi misalnya, sebagai wilayah yang dianggap kiblat muslim diseluruh dunia, telah mengharamkan Valentine bagi umat Islam karena dinilai sebagai perayaan kaum Kristen yang penuh kekufuran. Padahal dengan alasan yang tidak jelas, umat Islam di Indonesia (pada umumnya) sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di dunia, telah menjadikan Valentine sebagai bahagian yang mesti dirayakan setiap tahunnya (khususnya bagi para remaja).Barangkali ada benarnya “falsafah konyol” yang menyebutkan “hukum dibuat untuk dilanggar”, sehingga dengan serta merta Valentine yang telah di klaim “haram” bagi pemeluk Islam begitu leluasa mengakrabkan diri . Agaknya syariat kurang berlaku dalam tataran ini. Atau justru syariat memang tak lebih dari seperangkat aturan yang terikat ruang dan waktu, serta terkungkung keadaan tertentu, sehingga perayaan Valentine boleh jadi “berganti wajah” dalam perspektif hukum Islam sesuai dengan keadaannya. Sebagaimana pembelaan pemikir rasional, bahwa tidak ada statement yang qathi (jelas) didalam al-Qur’an maupun hadits terhadap pelarangan perayaan Valentine, sekalipun itu budaya yang tidak lahir dari Islam itu sendiri.
Melihat kenyataan bahwa perayaan Valentine semakin subur ditengah masyarakat Islam (Indonesia khusunya), agaknya syariat memang perlu menghadirkan sebuah argumentasi baru yang lebih memiliki makna generik serta terlepas dari sikap eksklusif yang menekankan prinsip bahwa Valentine lahir dari ajaran Kristen. Dengan kata lain, sungguhpun tidak ditemukan literatur lain selain literatur Kristen yang mampu menghantarkan sejarah Valentine, dan hal ini menandakan bahwa Valentine tidak dapat dibantah sebagai budaya yang datang dari ajaran Kristen, tetap saja ada nilai eksklusif yang akan lahir jika Islam menolak perayaan tersebut dengan alasan ini.
Barangkali, alasan yang lebih rasional dan universal untuk menolak perayaan Valentine bagi umat Islam adalah dengan mengajukan pertanyaan: untuk apa Valentine dirayakan?; cukup beralasankah 14 Februari dideklarasikan sebagai hari kasih sayang?. Maka pertanyaan ini dengan sendirinya akan menghadirkan jawaban bahwa Valentine tidak lain diperingati untuk mengenang santo Valentinus yang hanya ada dalam kayakinan Kristen. Oleh karenanya, kurang tepat jika Valentine dirayakan umat Islam dengan alasan turut merayakan hari kasih sayang. Padahal, Kristen sendri sebagai institusi yang memulai propaganda perayaan tersebut, pernah menghapuskan penanggalan ini dari kalender gereja dengan alasan sejarah yang tidak jelas. Naif sekali jika umat Islam yang notabenenya “ikut-ilutan” justru menjadi vigur yang paling “getol” merayakan Valentine tersebut.
Penutup.
Di Jepang Valentine dirayakan sebagai propaganda marketting secara besar-besaran. Orang Prancis dan Australia mungkin punya alasan sendiri untuk merayakan Valentine. Tapi yang sulit dimengerti adalah si “Fulan” penduduk asli Indonesia, dengan biaya yang cukup mahal turut mengemas kado istimewa untuk dipersembahkan kepada kekasihnya di tanggal 14 Februari. Apakah si “Fulan” juga punya alasan merayakan Valentine, atau justru menjadi korban ikut-ikutan?.
Di Jepang Valentine dirayakan sebagai propaganda marketting secara besar-besaran. Orang Prancis dan Australia mungkin punya alasan sendiri untuk merayakan Valentine. Tapi yang sulit dimengerti adalah si “Fulan” penduduk asli Indonesia, dengan biaya yang cukup mahal turut mengemas kado istimewa untuk dipersembahkan kepada kekasihnya di tanggal 14 Februari. Apakah si “Fulan” juga punya alasan merayakan Valentine, atau justru menjadi korban ikut-ikutan?.Tulisan sederhana ini kiranya dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca untuk lebih memahami makna perayaan 14 Februari sebagai hari Valentine. Mungkinkah perayaan tersebut akan semakin membudaya dalam lingkungan Islam akibat kebutaan sejarah, atau justru umat Islam akan semakin sadar bahwa mereka tidak punya alasan yang jelas untuk ikut merayakan Valentine?. Wallahu a’lam.
penulislepas.com
Subscribe to:
Comments (Atom)
